Wednesday, December 11, 2013

Perpustakaan Mandiri


Pada tanggal 23 Februari 2012, Bale Penisihan mendapatkan bantuan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari Bank Mandiri dalam bentuk pembangunan perpustakaan lengkap, terhadap usaha kegiatan kami dalam berkesenian dan pengembangan diri masyarakat.
Perpustakaan yang disumbangkan oleh Bank Mandiri terdiri dari ruang pustaka berupa bangunan permanen ukuran 3x3 meter persegi yang menyatu dengan bangunan utama gedung Bale Penisihan beserta perlengkapan pustaka meja-kursi, almari dan terutama buku-buku bacaan yang berisi segala pengetahuan dasar dan umum.
Kemudian sebagai tanda penghormatan serta tanda pengingat kepada Bank Mandiri, maka kami para Pendiri dan Pengelola Yayasan sepakat untuk memberi nama perpustakaan ini dengan nama: PUSTAKA MANDIRI.
Alhamdulillah, . . . puji Gusti, . . . semoga Gusti Allah SWT memberkahi perpustakaan ini, amin ya rabbil’alamin.




Tuesday, December 10, 2013

Kegiatan-kegiatan Yang Sudah Berjalan







Kegiatan yang sudah dilakukan:
1.    Rutin:
    1. Macapatan, pembacaan ceritera atau nasihat dengan irama tembang Jawa Macapat (Sinom, Asmaradana, Dhandhanggula, Durma, Kinanthi, Gambuh, Mijil, Maskumambang, Pangkur, Megatruh, Pucung), sebagai – lexio divina continua – membaca petunjuk-petunjuk kebenaran secara berkesinambungan dalam membangun jiwa yang tenteram.
    2. Karawitan, seni musik Jawa Gamelan, oleh paguyuban Ibu-ibu “Jati Laras”, dan paguyuban Bapak-bapak “Balung Laras” serta anak-anak SD Purwojati.
    3. Pedhalangan gagrag Banyumasan, bersamaan dengan kegiatan karawitan.
    4. Pedhalangan wayang Sadat – gaya Penisihan.
    5. Terbangan gaya Kaliwangian, yang merupakan akulturasi atau penggabungan kesenian Barzanjian (Perjanj√©n - Jawa) dengan salawatan Banyumasan.
    6. Tari Jawa, dengan pesertanya Ibu-ibu Guru SD serta anak-anak siswa TK dan SD sekecamatan Purwojati.
    7. Kerukunan bersepeda onthel dengan nama “Genjot Sehat”.
    8. Taman Bacaan Masyarakat, “Pustaka Mandiri” yang merupakan sumbangan dari Bank Mandiri.
  1. Tahunan:
    1. Sadranan dilaksanakan pada bulan Sya’ban
    2. Takbiran dilaksanakan akhir bulan Ramadhan
    3. Sedekah Bumi dilaksanakan setiap bulan Apit
    4. Suran dilaksanakan setiap tahun baru jawa
    5. Muludan dilaksanakan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhamad SAW.
    6. Perayaan kemerdekaan dilaksanakan pada sekitar 17 Agustus

Kemudian, kegiatan kedepan yang ingin kami kembangkan adalah:

  1. Kegiatan Tani Organik untuk menjawab kebutuhan pengetahuan pertanian yang efisien  dan ramah lingkungan.
  2. Bakti Sosial, berupa kunjungan membantu kebersihan dan kesehatan secara rutin oleh anggauta yayasan kepada orang-orang tua jompo terutama yang tinggal di rumah sendirian.

Penjelasan Aktivitas:
1.    Macapatan.
Membacakan syair tradisional Jawa yang dilakukan dalam 11 model: Dandanggula, Asmaradana, Kinanti, Durma, Mijil, Gambuh, Maskumambang, Megatruh, Pangkur dan Pucung.
Materi bacaan biasanya dating dari tulisan Jawa oleh penulis Jawa yang didalamnya mencakup pendidikan karakter seperti Serat Wulangreh (Susuhunan Paku Buwono IV), Wedatama (KGPAA Mangkunegoro IV), Nitisruti, Centini, Sasana Sunu, Linglung, Dewa Ruci  atau yang menceritakan sejarah Jawa seperti Serat Babad Pasir Luhur (Kamandaka), Babad Demak.
Macapat bisa disebut sebagai Lexio Divina (menurut Rama Sindunata) hal ini disebabkan karena merupakan bacaan yang dapat membangun pengertian akan kesadaran diri, sehingga pembacanya akan mendapat ketenangan batin, disamping sebagai sarana awal latihan untuk menjadi wiraswara atau bahkan menjadi sinden/swarawati.
Macapatan biasanya diadakan masyarakat pada acara midodareni, slapanan bayi, sunatan atau selamatan dalam rangka peringatan penting dari anggota keluarga.
  1. Gending Jawa.
Latihan membunyikan instrument musik khas Jawa atau sering disebut gamelan, yang terdiri dari: gendang, rebab, sitar, seruling, gender, gambang, bonang, saron, demung, slentem, kenong dan gong.
Disiplin-disiplin yang ada dalam memainkan gamelan akan membantu dalam pendidikan tingkah laku, tenggang rasa, kekompakan, pekembangan otak dan olah irama.
Dengan menguasai cara memainkan gamelan secara mandiri maupun secara berkelompok, maka akan dapat menjadi pengiring pertunjukan wayang kulit/orang, tayub/sintren, drama tari, atau seni Jawa pada umumnya.  
  1. Seni Pedalangan.
Seni memainkan wayang kulit dengan diiringi gamelan lengkap dengan pesinden dan wiraswara. Berlatih mendalang berarti berlatih menjadi master pertunjukan, yang memimpin jalannya pagelaran wayang kulit.
Dalang dari kerata basa Jawa (singkatan kata): ngudal piwulang – menguraikan ilmu, dalam hal ini ilmu yang dimaksud adalah segala ilmu tentang kehidupan, maka menjadi dalang tidak sekedar memainkan wayang kulit (sabet), melagukan tembang dan menarasikan ceritera (antawacana) tetapi juga harus mumpuni dalam hal ilmu-ilmu pengetahuan lain. Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki oleh seorang dalang, akan semakin berbobot dalam mendalang, melakonkan suatu judul ceritera baik dari kisah standar pedalangan, Mahabarata maupun Ramayana atau ceritera carangan ki dalang sendiri.
  1. Kentrungan
Juga disebut seni terbangan, selawatan, santiswaran atau pada tingkat yang lebih lengkap disebut laras madya, sebagai gabungan antara seni memainkan rebana Jawa (terbang ageng, terbang tengahan, terbang alit, kemanak dan kendang)   dengan sebagian perangkat gamelan (sitar, gender, kendang, saron dan gong).
    • Disebut Kentrungan bila yang diiringi adalah syair-syair ceritera dalam bentuk pantun(Jawa Timuran).
    • Disebut Selawatan bila lagu-lagu yang dinyanyikan diambil dari kitab Barzanji atau syair pujian kepada Nabi Muhammad saw.
    • Disebut Santiswaran (Mataraman) syair-syair yang dibaca dari tembang macapat, yang berisi sesanti atau nasihat.
    • Disebut Terbangan ini ketika diadakan pada acara selapanan bayi, sunatan, hari peringatan keagamaan atau hajat lain.
5.    Sadranan.
Upacara tradisi di daerah Banyumas dalam rangka persiapan memasuki bulan Ramadhan, dalam bentuk membersihkan kuburan dan kemudian diantara warga saling berkirim makanan atau berkumpul kemudian makan bersama dengan menu khusus yaitu daging pindang (semacam rawon di Jawa Timur, tetapi cara memasaknya dengan menggunakan santan kelapa).
6.    Takbiran.
Acara ber takbir semalam suntuk pada malam sebelum hari Iedulfitri. Membaca puji-pujian atau barzanji dengan diiringi permainan musik terbang/rebana.
7.    Sedekah Bumi
Acara selamatan atau syukuran terhadap berkah dari Tuhan yaitu  keberhasilan pertanian, semacam Halloween bagi orang barat.
Acara ini secara turun temurun dilakukan pada bulan Apit pada kalender Jawa/Hijriyah.
8.    Suran.
Acara tahun baru tanggal 1 Suro/Muharram pada kalender Jawa/Hijriyah, dilakukan dengan doa dan makan tumpeng kuat bersama-sama, dilanjutkan dengan berkontemplasi dalam bentuk menyaksikan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.
9.    Muludan
Acara peringatan lahirnya Nabi Muhammad saw, dalam bentuk pertunjukan seni selawatan dan macapatan.
10. Tujuhbelasan.
Ini adalah acara yang umum dilakukan oleh seluruh rakyat Indonesia, yaitu pada setiap tanggal 17 Agustus. Acara berisi segala macam perlombaan kesenian dan olah raga ditutup dengan pertunjukan kesenian semalam suntuk.    

Tujuan Program dan Fasilitas

Tujuan Program:
  1. Membangun kembali semangat masyarakat untuk mempertahankan seni tradisional setempat dan meningkatkan kreativitas individu dalam peningkatan akses kegiatan pendukung ekonomi masyarakat melalui kesenian lokal.
  2. Membentuk harmonisasi sosial dengan budaya tradisional Jawa sebagai dasar budaya setempat untuk mendukung pembentukan karakter masyarakat yang berprinsip “mencapai apa yang benar” melalui pendekatan budaya tradisional
Penerima Manfaat:
  1. Anak-anak khususnya dari Sekolah Dasar setempat
  2. Masyarakat Desa Purwojati dan sekitarnya
Tujuan Jangka Panjang:
Pembentukan kelompok masyarakat yang mendukung cara berfikir
apa yang benar” yang mengarah pada kehidupan harmonis dalam masyarakat, toleransi, humanis, beretika, dan memilikia karakter serta sadar akan keberadaan budaya Banyumasan dan Budaya Jawa

Fasilitas yang sudah ada saat ini:

  1. Satu set alat musik tradisional Jawa Gamelan laras slendro dan pelog
  2. Satu set/box Wayang Kulit lengkap (130 pieces) Banyumasan
  3. Rumah Tradisional jawa sebagai tempat untuk melakukan aktivitas dan pelatihan rutin
  4. Sound system sederhana

Desa Purwojati

Desa Purwojati merupakan salah satu desa dari sepuluh desa wilayah kecamatan Purwojati dan sekaligus sebagai ibu kota kecamatan. Terletak ditengah-tengah antara jalan utama propinsi yaitu di utara terdapat jalan penghubung Ajibarang dan Purwokerto, di Timur terdapat jalan antara Purwokerto dan Rawalo, di Selatan terdapat jalur Jawa Selatan dari Wangon ke arah Jogja dan di Barat terdapat jalan antara Wangon ke Ajibarang.

Topografi desa Purwojati berupa dataran sempit sebagai cekungan yang di kelilingi pegunungan kapur, sehingga pertanian sebagai mata pencaharian utama penduduknya berupa sawah dan huma tadah hujan. Hal ini disebabkan oleh jaringan iriasi dari Dam sungai Tajum di Ajibarang, tidak melalui kecamatan Purwojati.

Demografi, penduduk Purwojati tercatat ada 5301 jiwa, 1184 keluarga, 2786 laki-laki dan 2515 perempuan (data tahun 2009), terdiri dari terutama petani kemudian pegawai negeri sipil, guru dan sedikit pedagang. Dari segi penghasilan secara umum masuk pada kategori cukup, kelas bawah.

Kesenian tradisional yang ada yaitu macapatan, selawatan, genjringan, menoreng/wayang orang ceritera Menak, ebeg/kuda kepang dan yang popular adalah ronggeng/tayub yang menjadi inspirasi novel karya Ahmad Tohari yaitu trilogi Ronggeng Dukuh Paruk.